Pada tahun 1809, terjadi benturan dua dunia yang berbeda secara fundamental, yang akan menggelapkan cakrawala optimisme Abad Pencerahan. Di satu sisi berdiri Thomas Robert Malthus, sang 'Pendeta'βseorang rohaniwan sekaligus ekonom profesional pertama di dunia. Dibesarkan dalam semangat radikal Rousseauian dari ayahnya, Daniel Malthus, Thomas secara ironis menjadi pembawa realisme dingin yang aritmetis. Di hadapannya berdiri David Ricardo, sang 'Pialang Saham'βsosok raksasa di bursa London dan pria mandiri dengan kekayaan luar biasa yang membawa ketepatan deduktif dingin seorang saudagar ke ruang-ruang parlemen.
Lingkar Intelektual
Pertemuan mereka pada tahun 1809 memicu persahabatan selama empat belas tahun yang mendefinisikan batas-batas Ekonomi Politik. Terlepas dari perbedaan latar belakang sosial merekaβMalthus dari kelas menengah atas Inggris dan Ricardo dari latar belakang saudagar Yahudi-Belandaβmereka memiliki komitmen mendalam terhadap penyelidikan yang ketat. Mereka ditemani oleh tokoh-tokoh seperti James Mill, mentor Ricardo dan 'pengawas intelektualnya,' serta novelis Maria Edgeworth. Bersama-sama, mereka mengubah pemikiran ekonomi dari optimisme cerah ala Smith menjadi analisis suram tentang kelas sosial dan keterbatasan sumber daya.